Article Image

UANG BICARA

Dunia Buku yang (Masih) Tidak Baik-Baik Saja

"Industri buku masih berusaha dari tekanan setelah pandemi, berbagai terobosan dilakukan para pebisnis agar tetap bisa relevan dan risilien."

KBR, Jakarta - Disrupsi digital dan pandemi menguji dunia buku habis-habisan. Pelaku industri sektor ini mulai beradaptasi dengan membuat buku digital. Pemasarannya tak hanya mengandalkan toko buku tapi makin gencar berjualan di lokapasar.

Ketua Umum ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Hilman Nugraha mengibaratkan pandemi seperti pedang bermata dua. Ada kerugian karena buku fisik mulai redup, tetapi di sisi lain, ada percepatan digitalisasi. 

“Tahun 2019 baru 10% penerbit yang berjualan di dunia digital. Setelah pandemi tahun 2020-2021 itu sudah sekitar 74% anggota Ikapi berjualan secara digital,” jelas Arys.

Makin terbiasanya masyarakat dengan buku elektronik juga mendorong pengembangan perpustakaan digital. Perubahan perilaku pembaca menjadi tantangan baru yang harus dihadapi penerbit.

“Perpustakaan biasanya membeli 10 eksemplar buku digital, ada juga risiko lain bahwa buku digital kan tidak pernah ada repeat order untuk para penerbit,” katanya.

Platform membaca memang semakin beragam. Sayangnya aplikasi baca buku belum menjadi favorit.  Misalnya di Google Playstore, layanan video sesuai permintaan (VOD) masih mendominasi aplikasi populer.

Baca Juga:

      Ketua Umum ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Hilman Nugraha mengatakan pembajakan di platform lokapasar baik buku elektronik maupun fisik masih jadi musuh industri buku. (Foto: Dok pribadi)

      Menurut Arys, rendahnya konsumsi buku masyarakat Indonesia bukan karena persoalan minat baca, tetapi soal akses terhadap buku yang masih terbatas. Tak banyak sekolah punya fasilitas perpustakaan yang memadai. Buku masih dianggap barang mewah.

      “Di tingkat SD hanya 67% sekolah yang punya perpustakaan, tingkat kelayakannya hanya 19%. Sementara di tingkat SMP ada 76% sekolah yang punya perpustakaan, tingkat kelayakannya 22%. Bagaimana anak-anak kita mau terpanggil pergi ke perpustakaan?” tuturnya.

      Arys menyayangkan tutupnya toko buku Gunung Agung setelah 70 tahun beroperasi. Baginya, Gunung Agung punya andil sejarah bagi kebangkitan bangsa. Peristiwa ini juga menunjukkan industri buku dalam negeri masih memprihatinkan.

      “Ketika Gunung Agung hilang itu ada sesuatu yang salah dengan bangsa kita,” kata Arys.

      Arys berharap dunia buku kembali menggeliat tahun ini, setelah Kementerian Pendidikan menerbitkan lagi juknis pembelian buku, yang sempat terhenti saat pandemi karena alasan realokasi anggaran. 

      “Bukan karena ingin memakmurkan para pedagang buku, tapi karena di balik buku itu kan ada sesuatu, ada cita-cita bangsa kita, cita-cita tentang kecerdasan bangsa, tentang kemajuan, tentang Indonesia emas,” tegas Arys.

      Dengarkan Uang Bicara episode Dunia Buku yang (Masih) Tidak Baik-Baik Saja bersama Ketua Umum ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Hilman Nugraha di KBR Prime, Spotify, Apple Podcast, dan platform mendengarkan podcast lainnya.