cihui

Pelawak-pelawak Baru dari Penjara Indonesia

Pelawak-pelawak Baru dari Penjara IndonesiaJuara 1 Kompetisi Stand up Commedy di penjara Bulu Semarang sedang tampil di panggung. (Foto: Shinta Ardhany KBR68H)

Lawakan tunggal atau yang lebih dikenal dengan stand-up comedy kini semakin populer di Indonesia.

Siaran langsung acara ini di TV menarik banyak penonton dan juga makin banyak berdiri klub stand-up comedy di penjuru tanah air.

Di balik jeruji besi, para narapidana mencoba melakukannya, membawa humor ke dalam kehidupan penjara yang mengerikan.

Aladin dan Jinny sedang membandingkan waktu yang mereka habiskan di penjara.

Ini adalah lawakan yang ditampilkan tiga narapidana perempuan yang diketuai Indah Wulandari.

“Sekali berbakat aku dipenjara, terima kasih Tuhan untuk teguran ini, terima kasih banget. Kalau aku nggak dipenjara aku nggak begini. Yang  pasti pada ibu merinding aku, dia selalu support aku, apapun yang terjadi ibu bilang “ayo Wulan kamu bisa apapun kamu aku dukung kamu”.”

Mereka jadi juara pertama dalam kompetisi stand-up comedy – kompetisi pertama di penjara di Indonesia.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih ada di tengah penonton dan ia tidak bisa berhenti tertawa sepanjang acara.

“Acaranya bagus sekali, membuat semua orang tertawa bahagia melupakan kesedihan sejenak. Acaranya dikemas begitu bagus karena ada partisipasi mencari bakat. Bakat mereka? Luar biasa, pada kondisi di dalam LP mereka bisa mencreat, bisa mengeksplore diri, luar biasa buat saya.”

Kompertisi ini diadakan kelompok pelawak lokal Semarang bernama KILLS.

Agung Endyatmoko dari KILLS mengatakan ide utama acara ini adalah untuk menghibur para napi dan mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang kreatif dan positif.

“Orang umum bisa liat hasilnya betul-betul bagus. Meski orang-orang di lapas itu mendapat sorotan kalau di lapas itu tempat pendidikan yang lebih canggih untuk kejahatan mereka selanjutnya. Itu yang negatif. Sementara kalau kita ajarkan lewat yang poisitif hasilnya lebih positif lagi.”

Baba, anggota tim Wulan yang lain, sangat mendukung acara ini.

Ia mengatakan lawakan bisa menjadi cara mengekspresikan pendapat dan rasa fustasinya, yang mungkin tidak akan bisa diterima bila dilakukan dengan cara lain.
 
“Kita di sini sakit banget ya. Itu yang kita keluarin uneg-uneg dari hati, dengan cara itu pesannya sampai. Ingin mengungkapkan yang ada di hati, seperti kita gak bisa urus lah, kita pengen ngomong yang ada diati. Suatu wujud pengen ngomong tapi gak ada kesempatan ngomong.”

Kompetisi ini juga didukung Yayasan Prasasti Perdamaian, sebuah LSM yang fokus mendampingi para napi selama masa transisi untuk kembali ke masyarakat.

Menurut direkturnya, Noor Huda Ismail, lawakan adalah cara yang efektif untuk memberdayakan para napi begitu keluar penjara karena humor adalah bahasa yang dipahami semua orang.

“Sebetulnya intinya orang yang terlibat di dalam kriminal melalui proses, kasus terorisme,  Kasus pembunuhan, ada proses terlibat, ada tititk tertentu mereka ingin mulai hidup baru. Nah kerja mulia ini harus di dukung tidak hanya swasta tapi juga negara, kalau misalnya orang-orang yang dipenjara itu kemudian dan tidak jadi anggota masyarakat itu akan jadi bebena negara di kemudian hari.”

Napi seperti Aida, sangat senang dengan lawakan dari teman-teman sesama napi.

“Kita seneng di sini gak ada hiburan, kegiatan rutin sepertit itu terus, jadi ada kegiatan sepertit ini , seneng banget menghibur banget, pa lagi pelakunya teman sendiri. Ada semangat.”



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA

Artikel Terkait