cihui

Setara Institute: Penghargaan Pejuang Toleransi untuk SBY Mengherankan

Setara Institute: Penghargaan Pejuang Toleransi untuk SBY MengherankanIlustrasi
 
 

KBR68H, Jakarta – Lembaga pembela keberagaman dan toleransi, Setara Institute merasa heran dengan kebijakan lembaga internasional asal Amerika Serikat, Appeal of Conscience Foundation yang memberikan penghargaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pejuang toleransi.

Wakil Direktur Setara Institute  Bonar Tigor Naispospos mengaku, hal ini juga dipertanyakan oleh kelompok-kelompok lain yang kerap memperjuangkan kebebasan bergama dan pluralisme. “Terutama korban yang mempertanyakan apa dasar pemberian ini oleh lembaga tersebut,” tegas Bonar. 

Ia menegaskan, di bawah kepemimpinan SBY, hingga kini kasus-kasus kasus-kasus intoleransi beragama tidak ada titik terang penyelesaiannya.

“Sebagai contoh teman-teman Ahmadiyah di Mataram, Lombok, sekarang ini sudah lebih dari tujuh  tahun tinggal di pengungsian tanpa kejelasan nasib mereka bagaimana. Mereka juga tidak memiliki KTP, kalau tidak punya KTP akses terhadap bantuan sosial dan lainnya juga terhambat. Tujuh tahun ini berarti sejak periode pertama SBY menjabat sebagai presiden, seharusnya dia bisa melakukan sesuatu untuk kemudian mencari penyelesaiannya. Apakah kembali ke tempat asal mereka semula, apakah kemudian tinggal di tempat yang layak,” ungkap Bonar.

Namun, ia hanya bisa berpikir posisif saja soal pemberian penghargaan itu. “ Barangkali lembaga yang cukup ternama hendak kali memberikan sindiran kepada presiden ya, sehingga mendorong presiden agar lebih giat lagi ya?” ungkapnya.

Ketidakberanian Presiden

Bonar Tigor menegaskan, muara dari tak tuntasnya beragam kasus intoleransi di tanah air disebabkan oleh ketidakberanian presiden dalam bersikap.

“Kalau lihat dari habit SBY saya tidak yakin sampai selesai masa jabatan dia punya keberanian untuk melakukan terobosan menyelesaikan itu,” jelas Bonar.

Padahal, kata dia, seharusnya presiden bisa memastikan adanya penegakan hukum.

“Membawa mereka yang melakukan intimidasi, kekerasan, termasuk menghambat kebebasan beribadah itu mempertanggungjawabkan secara hukum. Akan ada semacam efek jera bagi mereka yang melakukan itu akan mendapat sanksi,” tegas Bonar.

Sebab, kata dia, sejauh ini pelaku kekerasan beragama yang dibawa ke meja pengadilan seperti kasus Cikeusik hanya dihukum ringan saja.




PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA