cihui

Kasus Pembacokan Buruh, Polisi Panggil Asosiasi Pengusaha Limbah

Kasus Pembacokan Buruh, Polisi Panggil Asosiasi Pengusaha LimbahAnggota TNI dan Polisi berjaga saat unjuk rasa buruh yang dihadang sejumlah ormas di kawasan EJIP (East Jakarta Industrial Park), Cikarang, Bekasi, Jawa Barat (Kamis (31/10). (Foto: ANTARA)
 
 

KBR68H, Jakarta – Penyidik Bareskrim Mabes Polri akan memanggil pihak Asosiasi Pengusaha Limbah Indonesia (Aspelindo) dalam waktu dekat. Aspelindo akan dimintai keterangan terkait dugaan upaya mengerahkan ormas Pemuda Pancasila untuk  menyerang aksi buruh di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat pekan lalu.

Juru Bicara Kepolisian Indonesia Ronny Franky Sompie mengatakan, pihaknya harus melihat permasalahan ini dari berbagai pihak termasuk dari pengusaha. Kata dia, Kapolres Kabupaten Bekasi juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Semua yang berkaitan dengan kasus itu pasti diperiksa. Kita ingat bahwa saksi itu adalah saksi yang mengetahui, yang melihat yang mendengar dan juga bisa saksi yang memang berkaitan yang bisa kita dengar keterangan untuk memperkuat. Bisa menjadi bukti petunjuk dan dikuatkan dengan pasal 184 Kuhap, jadi saksi itu pagarnya undang-undang. (Termasuk memanggil Kapolres Kabupaten Bekasi juga pak?) Artinya semua yang berkait dan perlu dijadikan saksi bahwa yang bersangkutan memang patut dan layak untuk didengar keterangn sebagai saksi atau sebagai tersangka," ujar Ronny kepada wartawan di Hotel Borobudur.

Sebelumnya, aksi mogok nasional buruh pekan lalu diwarnai penyerangan sekelompok anggota ormas Pemuda Pancasila. Penyerangan yang terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi itu mengakibatkan 28 orang buruh luka-luka.

Atas aksi penyerangan tersebut, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyalahkan pihak kepolisian sengaja membiarkan terjadinya penyerangan.

Editor: Suryawijayanti



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA