cihui

Produksi Bawang Merah 2014 Melimpah, Pemerintah Harus Stop Impor

Produksi Bawang Merah 2014 Melimpah, Pemerintah Harus Stop ImporSejumlah buruh melakukan proses pembersihan (mbutik) bawang merah di Desa Padasugih, Brebes, Jateng, Selasa (26/11). Sebagian perempuan di daerah tersebut berprofesi sebagai buruh mbutik dan mereka bekerja dari pukul 08.00-16.00 WIB serta mendapat upah Rp 40 ribu per orang. Foto ANTARA
 
 

KBR68H, Jakarta - Asosiasi Perbenihan Bawang Merah Indonesia (APBMI) memprediksi produksi bawang merah pada Januari 2014 akan melimpah. Itu sebab, pemerintah diminta tidak ceroboh membuka keran impor bawang merah. Wakil Ketua Asosiasi Perbenihan Bawang Merah Indonesia (APBMI), Akat mengatakan puncak panen bawang merah berlangsung pada Januari - Februari mendatang. Bahkan sebagian petani di Nganjuk dan Probolinggo sudah mulai memanen komoditas pertanian tersebut. Jika pemerintah terus mengandalkan kebijakan impor, dia khawatir semangat petani menanam bawang terus surut.

"Ini nanti di Januari ini, Pasti diistilahnya kalau orang Nganjuk bilangnya laguhan. Ini di Nganjuk rata-rata sudah mau satu bulan. Bulan depan Nganjuk belahan timur sudah ada yang mulai panen. Termasuk Probolinggo juga ada informasi sudah mulai panen. Ini merupakan suatu pertimbangan juga untuk melakukan kebijakan. Nanti seandainya jadi, harapan kami dalam hal kebijakan impor juga harus berhati-hati pula," jelas Akat saat dihubungi KBR68H.

APBMI mengusulkan tahun depan Indonesia tak perlu mengimpor bawang merah dari Cina. Meski ongkos produksi bertambah dari Rp 70 juta menjadi Rp 80 juta per hektar, luas lahan terus bertambah dan harga benih semakin murah, namun harga bawang merah di tingkat petani anjlok menjadi Rp 10.000 - Rp 14.000 per kilogram. Harga ini lebih rendah dari ongkos produksi per kilogram yang mencapai Rp 15.000. Harga bawang anjlok karena sejumlah perusahaan makanan mengimpor bawang merah.


Editor: Damar Fery Ardiyan



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA