Article Image

SAGA

Demi Eliminasi Kanker Serviks 2030

"Vaksinasi HPV gratis menyasar anak usia 11 dan 12 tahun. Di fase kedua mulai 2028 sasaran akan diperluas ke anak laki-laki. "

Ilustrasi vaksin HPV

KBR, Jakarta - Ingatan tentang mendiang artis Julia Perez dan kanker serviks atau kanker mulut rahim, tertanam kuat di benak Niti. Keganasan penyakit ini selalu membuatnya was-was.

“Yang paling ketanam banget di otak itu kasus artis Julia Perez. Kemudian dari Deddy Corbuzier, bahwa sebenarnya kanker ini bisa dicegah salah satunya dengan vaksin HPV,” kata Niti.

Niti punya dua putri yang kini berusia 14 dan 10 tahun. Kanker serviks memang paling banyak menyerang perempuan.

“Akhirnya saya buru-buru begitu ada info pemberian vaksin ini, saya datang ke puskesmas karena sudah dijadwal. Akhirnya dia (anaknya) sudah dapat vaksin dua (dosis),” jelas Niti.

Warga Jakarta Timur ini sedikit lega, putri pertamanya, sudah mendapat dua dosis lengkap vaksin Human Papillomavirus HPV, untuk mencegah kanker serviks.

Niti tak perlu membayar karena vaksin HPV untuk anak umur 11 dan 12 tahun, diberikan cuma-cuma. Jakarta merupakan provinsi pertama yang menjalankan program vaksinasi HPV gratis sejak 2016.

“Anak saya divaksin kelas 5 (SD), umur 11 tahun. Waktu kloter pertama, saya luput infonya. Lalu ada info lagi vaksin HPV, saya buru-buru ikutkan. Lalu dijadwal sama puskesmasnya untuk vaksin yang kedua sebelum anak ini lulus SD. Karena kalau sudah lulus SD vaksinnya sudah tidak gratis dan kita harus mencari rumah sakit yang menyediakan vaksin,” tuturnya.

Kini Niti menunggu giliran anak keduanya yang bakal divaksin, kemungkinan tahun depan, saat berusia 11 tahun.

Baca juga: Orang dengan HIV (ODHIV) Bisa Menikah dan Punya Anak

Vaksinasi HPV pada anak perempuan usia 11 dan 12 tahun dilaksanakan sejak 2023. Pada 2028, sasaran akan diperluas ke anak laki-laki. (Foto: web Sehat Negeriku Kemkes)

Kesadaran tentang pentingnya vaksin HPV pun dimiliki Santi, yang juga warga Jakarta. Lahir di keluarga yang punya riwayat kanker membuat Santi mesti waspada sedari dini.

Ibu berusia 45 tahun ini, bahkan berinisiatif vaksinasi HPV mandiri. Meski, ia harus membayar Rp5,1 juta untuk 3 dosis vaksin HPV.

“Dalam keluarga banyak yang terkena kanker. Mertua kena kanker serviks. Jadi karena katanya kanker itu menurun ya takut risiko ke anak. Dari pihak ayah dan ibu ada keturunan kanker,” kata Santi.

Kini Santi tengah menabung agar putrinya yang berusia 16 tahun juga bisa divaksin HPV, segera setelah tamat SMA. Ia harus menyiapkan dana karena tidak ada program vaksinasi gratis untuk anak usia SMP maupun SMA.

“Karena kan sekarang lebih banyak dan umurnya muda-muda yang kena kanker. Kemarin, teman umur 40 kena (kanker) payudara, serviks. Jadi memang harus diinfo dari dini, anak-anak biar mereka bisa menjaga kesehatan, dari makanan dan gaya hidup,” tutur Santi.

Program nasional vaksinasi HPV diluncurkan pada 2023 lalu, dengan target sekitar 3 juta anak perempuan usia 11 hingga 12 tahun. Ini termasuk mereka yang berpendidikan nonformal maupun yang tidak bersekolah.

Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine Berliana mengeklaim 90 persen dari target sudah terpenuhi.

“Namun, ini memang nasional. Kalau kita lihat capaian di provinsi, memang bervariasi. Beberapa provinsi sudah baik, kemudian masih ada provinsi yang di bawah target,” jelas Prima.

Sejumlah provinsi dengan capaian tinggi misalnya, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan. Sedangkan, Papua, Aceh, dan Maluku, capaiannya rendah.

“Sebagian daerah sulit secara geografisnya. Kendala geografis memang masih menjadi penyebab dan di Papua juga ada konflik,” tuturnya.

Baca juga: Kapan Bisa Berlepas Diri dari Merkuri?

Beredarnya hoaks atau informasi bohong soal vaksin HPV juga menghambat.

“Ada isu (vaksin HPV) menyebabkan kemandulan, kemudian juga ada efek samping yang dikhawatirkan. Walaupun kita berkali-kali menyampaikan bahwa vaksin HPV yang diberikan pada bulan imunisasi anak sekolah adalah vaksin yang cukup aman dan jarang sekali ada efek sampingnya,” ungkap Prima.

Prima memastikan bakal merangkul sebanyak mungkin pemangku kepentingan untuk menyukseskan program vaksinasi HPV. Apalagi, dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks Indonesia, sasaran vaksin bakal diperluas pada anak laki-laki mulai 2028.

“Kemudian pihak-pihak swasta yang juga berkecimpung dalam bidang kesehatan, juga organisasi-organisasi keagamaan. Karena kita tahu mereka juga memiliki cabang-cabang yang sampai turun ke masyarakat,” tambah Prima

Pemerintah menargetkan pada 2030, sebanyak 90 persen anak laki-laki dan perempuan sudah divaksin HPV sebelum usia 15 tahun. Dua dosis vaksin HPV terbukti efektif melindungi dari kanker serviks hingga 90 persen.

Menurut Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, perlu ada terobosan dalam edukasi tentang vaksin HPV. Misalnya dengan menggandeng Kementerian Pendidikan.

"Orang tuanya setuju, anaknya nggak mau, misalkan. Saya kira mungkin perlu dibuat champion dari siswa SD atau SMP, atau dokter kecil atau apapun itu yang melibatkan anak-anak sendiri, supaya dia sosialisasikan dengan bahasanya sendiri,” kata Piprim.

Selain vaksin HPV, upaya eliminasi kanker serviks 2030 juga digencarkan melalui skrining pada perempuan usia 30 hingga 69 tahun. Targetnya, 75 persen perempuan dewasa diskrining dengan tes DNA HPV. Kemudian, 90 persen perempuan di fase awal kanker serviks maupun kanker invasif, harus dalam pengobatan. Dengan skenario ini, diharapkan 1,2 juta jiwa bisa diselamatkan dari kanker serviks pada 2070.

Baca juga: Kerugian Nyata Polusi Udara: yang Kentara dan yang Tak Kasat Mata

Penulis: Vitri Angreni   

Editor: Ninik Yuniati