cihui

Pilih Tanaman yang Menguntungkan, Petani Sudah Mulai Pandai

Pilih Tanaman yang Menguntungkan, Petani Sudah Mulai PandaiAktivitas petani. (Foto: ANTARA)
 
 

KBR68H, Jakarta - Petani di Banyuwangi, Jawa Timur kini mulai meninggalkan padi dan memilih tanaman yang lebih menguntungkan. Para petani lebih memilih menanam jeruk karena lebih menguntungkan ketimbang padi. Tanaman jeruk memang baru bisa dipanen setelah berumur 5 tahun. Tapi hasilnya bisa mencapai Rp 50 juta-Rp 70 juta sekali panen dengan perkiraan panen 10-15 ton per hektar. Kenapa produksi tanaman padi di Banyuwangi terus menurun sehingga petani memilih menanam jeruk? Simak perbincangan KBR68H dengan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi Ikrori Hudanto dalam progranm Sarapan Pagi.

Para petani di sana beralih dari petani padi menjadi berkebun buah ya?

Sebenarnya petani sekarang sudah mulai pandai membandingkan jenis tanaman, orientasi mereka adalah pendapatan. Ketika bicara pendapatan mereka lebih memilih jenis-jenis tanaman yang lebih menguntungkan daripada jenis tanaman yang lain. Itu yang menjadi satu pemikiran dari petani-petani sekarang karena sudah kemajuan zaman, kemajuan informasi, dan sebagainya. Untuk di Kabupaten Banyuwangi sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan, karena di Banyuwangi sudah ada tata ruang wilayah kabupaten sudah jelas kalau ini dikembangkan hortikultura, ini taman pangan, perkebunan, kehutanan sudah jelas.

Kalau begitu apakah mereka melaporkan ke dinas pertanian setempat atau langsung saja mengubah tanaman mereka?

Kadang-kadang mereka langsung saja, tidak ada satu aturanpun untuk mencegah kalau mereka bercocok tanam kecuali yang melanggar aturan seperti ganja dan sebagainya. Hanya persoalan mereka memilih juga, betul hortikultura kadang-kadang bisa lebih meningkat daripada padi. Tetapi perlu diingat bahwa hortikultura mudah rusak, modalnya cukup besar, pasarnya juga kadang bagus kadang tidak bagus tergantung pada situasi. Hal-hal demikian ini akan menyeleksi dari petani yang kira-kira mampu menanam hortikultura yang banyak. Kemudian petani-petani yang takut resiko tinggi tetap saja menanam padi yang mudah dan resikonya tidak tinggi karena sudah ada harga dasar.
 
Kalau petani yang beralih menanam buah ini mencapai berapa?

Mungkin ratusan.

Untuk daerah Banyuwangi sendiri memang hanya cocok ditanam apa?

Kalau di Banyuwangi sendiri hampir semua hortikultura cocok. Cuma ada wilayah-wilayah seperti jeruk, semangka juga ekspor, manggis juga ekspor, durian, buah naga, banyak.

Di satu sisi ini menarik untuk membangkitkan semangat bertani, tapi di sisi lain apa tidak mengurangi jumlah lahan padi?

Kalau mengurangi lahan padi otomatis. Karena bagaimanapun itu wilayahnya satu lahan sawah, lahan sawah direbut oleh padi, jagung, dan hortikultura. Tetapi untuk mengatasi itu ada beberapa teknik bagaimana meningkatkan produksi padi, produksi padi di Banyuwangi sekitar 64-65 kwintal. Itu melebihi dari produktivitas di Jawa Timur maupun di tingkat nasional, tingkat nasional sama Jawa Timur itu 59 kwintal.

Kalau dari lahan sendiri semakin tahun bisa dipastikan jumlahnya semakin berkurang lahan padi ini. Apakah penurunan jumlah atau luas lahan padi ini cukup drastis juga mempengaruhi tingkat produktivitas?

Saya kira tidak begitu, kemarin saja kita berkembang. Kemarin ada 700 ribu ton sekarang 792 ribu ton, ada kenaikan. Kita bermain bagaimana meningkatkan produksi padi dengan benih unggul, pupuk, penggabungan begitu.

Untuk saat ini dari dinas pertanian bagaimana memberikan informasi kepada petani supaya benar-benar memutuskan menanam padi?

Ini pelajaran bagi petani yang modalnya pas-pasan dan sebagainya ya hati-hati masuk ke hortikultura, karena kita kirim ke Jakarta ternyata harganya jatuh. 

Dari tahun ke tahun apakah jumlah petani padi semakin berkurang atau banyak juga yang setelah beralih ke hortikultura beralih lagi ke padi?

Biasanya mereka menanam semangka dan cabai itu pada musim kemarau. Jadi memanfaatkan musim kemarau, tapi ketika musim hujan mereka juga takut produksinya turun. Dia membandingkannya bukan hanya padi tapi pembandingnya jagung dan kedelai, ketika ada tanaman yang menguntungkan mungkin semangka, melon, dan sebagainya.



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA