cihui

Petisi Online dan Penyelamatan Lingkungan

Petisi Online dan Penyelamatan Lingkungan
 
 

KBR68H, Jakarta - Untuk menunjukan aspirasi Anda tidak melulu harus turun ke jalan, berteriak, berpanas-panasan atau kehujanan. Saat ini kita bisa menyuarakan sebuah dukungan lewat sebuah petisi di dunia maya. Salah satu penggerak petisi di dunia maya atau petisi online adalah situs change.org. Beragam hal dibahas di petisi ini. Mulai dari isu HAM sampai isu lingkungan.

Tak hanya di Indonesia saja, situs change.org juga sudah ada tersebar di 196 negara. Di Indonesia sendiri situs ini sudah berdiri sejak dua tahun lalu. Juru Bicara Change.org Dhenok Pratiwi mengaku meski baru dua tahun dibentuk, change.org ini telah mampu memperngaruhi sebagain masyarakat untuk mengkritik kebijakan atau peristiwa melalui petisi online tersebut.

"Sebenarnya banyak sekali, ini kan karena petisi ini seperti campaign online-nya YouTube, semua orang bisa buat petisi online. Tapi kan, ada beberapa petisi yang memang menonjol dan menginspirasi, nah itu yang kita berusaha untuk menyebarkannya kepada masyarakat", jelas Dhenok

Change.org, media sosial untuk perubahan sosial, mencatat sedikitnya ada 6 peristiwa sosial/ kebijakan publik di Tanah Air sepanjang 2012 yang berubah karena dipengaruhi desakan masyarakat melalui media sosial. Peristiwa sosial/kebijakan publik itu, antara lain, Satuan Tugas Tenaga Kerja Indonesia yang meminta maaf atas pernyataan ketuanya yang dinilai menyinggung TKI, Wali Kota Tangerang Selatan akhirnya memperbaiki sebuah jalan yang sudah bertahun-tahun rusak, dan Bandar Udara Soekarno-Hatta yang melarang sebuah toko menjual sirip hiu.

Kata Dhenok, Change.org tak membatasi masyarakat yang ingin membuat usulan atas petisi dalam berbagai kasus atau peristiwa yang terjadi.

"Bisa memungkinkan semua orang, bahkan dari mahasiswa, Ibu rumah tangga, pekerja, pelajar bahkan orang yang tidak memliki keterkaitan dengan isu tertentu tp dia peduli dengan su tersebut". tegas Dhenok.

Baru-baru ini, petisi yang ramai diperbincangkan adalah mengenai berbagai penyelematan hewan yang berada salah satu kebun binatang di Surabaya. Dan juga tak ketinggalan mengenai peristiwa matinya gajah "papa genk" di Aceh. Tak sedikit masyarakat yang peduli dengan adanya petisi tersebut, mendesak agar kasus tersebut diusut secara tuntas. Bahkan, Kepala Divisi Advokasi Kampanye Walhi Aceh, Nizar Abdurrani mendukung penuh atas trend petisi online tersebut.

Namun, pihaknya mengkritisi mengenai minimnya masyarakat di daerah yang ikut mendukung petisi. Karena menurutnya tak semua daerah memiliki akses internet yang baik seperti di kota-kota besar lainnya.Jadi petisi online ini hanya di ketahui oleh sebagain  kalangan saja.

"Saya pikir ini hanya salah satu cara, saya pikir untuk di Aceh khususnya belum menjadi mainstream atau arus utama untuk mengubah kebijakan. Karena penetreasi internet tidak sebaik di pusat, kita memang sudah berpikir kalau kampanye ini kan ada tingkatannya ada daerah, nasional dan internasional. Kalau untuk tingkat nasional dan internaional itu akan efektif, Tetapi untuk level daerah belum bisa terpenuhi. Karena di daerah sendiri banyak pejabat yang belum lihat internet" tutur Nizar.

Masalah keterbatasan akses internet diakui oleh Dhenok, tapi pihaknya meyakini petisi online ini adalah salah satu cara yang dapat dilakukan selain aksi atau demonstrasi. Kemajuan tekhnogi saat ini, menurutnya dapat memicu peningkatan masyarakat daerah untuk melek terhadap internet.

"Petisi online ini tidak bisa berdiri sendiri agar mencapai kemenanganya, kita mmebutuhkan kerjasama dengan orang, seperti Walhi misalnya. Lembaga-lembaga ini itu membantu mengkampanyekan sosial itu, agar tujuannya dapat tercapai" ujar Dhenok

keberhasilan beberapa petisi online yang diwadahi oleh change.org tersebut ternyata tak menutupi kegelisahan bagi keberadaan petisi online di Indonesia. Dhenok kembali mengeluhkan perihal kurangnya tradisi menggunakan petisi online khusunya di Indonesia.

"Kami inginnya makin banyak orang yang menggunakan tools petisi online ini untuk menyampaikan gagasan ini dalam membuat perubahan. Misalnya, ketika ada masalah yang di sekitar kita merasa ini ada suatu  masalah kita harus merubahnya. Masih banyak yang membuat staus di face book kita maunya mulailah menggunakn petisi ini untuk megajak orang lain yang berpikiran sama untuk membuat perubahan"

Kerjasama tak hanya dilakukan dengan lembaga atau LSM lainnya, tapi menurutnya peran pemerintah sang pembuat kebijakan juga diperlukan agar petisi online ini tidak sia-sia. Selain itu, tak menutup kemungkinan, pihaknya akan melakukan sosialisasi mengenai petisi online ke daerah-daerah agar semua masyarat Indonesi dapat membuat perubahan melalui petisi online ini.

Editor: Doddy Rosadi



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA