cihui

Inilah Pembelaan Prabowo Soal Tudingan Pelanggaran HAM dan Kasus Munir

 Inilah Pembelaan Prabowo Soal Tudingan Pelanggaran HAM dan Kasus Munir Prabowo Subianto (foto: Antara)
 
 

KBR68H, Jakarta - Prabowo Subianto bakal mencalonkan diri sebagai Presiden dalam Pemilu Indonesia tahun depan. Tapi bekas jendral ini punya rekam jejak HAM yang buruk. 


Dia diduga terlibat banyak kasus pelanggaran HAM,  hingga kini Prabowo masih masuk dalam daftar cekal pemerintah Amerika Serikat karena diduga terlibat kasus penculikan aktivis pada 1998. 


Rebecca Henschke hadir dalam konferensi pers Prabowo Subianto di hadapan koresponden asing di Jakarta. Berikut penjelasan dari Prabowo. 


Organisasi HAM di Indonesia menyatakan kalau Anda terpilih menjadi Presiden, ini adalah langkah mundur dalam konteks penyelesaian kasus pelanggaran HAM di masa lalu dan masa mendatang. Menurut mereka, bagaimana kita bisa berharap pada seseorang untuk menjunjung penegakan HAM jika orang itu juga diduga melanggar HAM? Bagaimana Anda menanggapi tudingan itu? 


Saya tahu pertanyaan itu pasti akan muncul (tertawa). Saya sudah sering menjawab pertanyaan ini. Jadi sebaiknya Anda melihat di YouTube. Tapi saya akan menjawab pertanyaan itu. Kita sudah memilih sistem demokrasi. Biarlah masyarakat Indonesia yang memutuskan. Apakah Anda hendak mengatakan kalau 250 juta penduduk Indonesia semuanya bodoh?


Saya telah berkampanye di hadapan banyak orang Indonesia selama 15 tahun terakhir, kalau ini adalah Pemilu ketiga saya. Biarlah orang Indonesia yang meutuskan. Biarlah mereka mencermati masa lalu. Biarlah mereka menentukan siapa yang akan jadi pemimpin terpilih. 


Tuduhan adalah bagian dari permainan politik. Ini adalah pencemaran karakter. Jadi setiap kali polling tentang saya naik, maka tuduhan-tuduhan seperti ini langsung muncul. Dan Anda tahu... mari kita berkomitmen terhadap demokrasi dan mari mengurus masalah-masalah Indonesia yang konkrit dan mendasar. 


Hak Asasi Manusia adalah hal yang sangat penting. Saya punya komitmen tinggi untuk HAM. Ada sejumlah kelompok yang menjelekkan saya, mengecap saya dengan buruk. Saya menerima diri saya dengan baik. Saya bangga pada apa yang telah saya lakukan. Saya adalah pejuang Indonesia yang kuat. Saya akan mempertahankan kepentingan nasional Indonesia. Saya telah mengorbankan hidup saya demi kehormatan dan kemerdekaan bangsa ini. 


Jadi... bagaimana ya... Saya yakin kalau warga Indonesia bisa memutuskan. Saya akan menghormati keputusan itu, selama itu bebas dan adil. 


Dan soal kasus Munir, Pak? 


Ada apa dengan kasus Munir? (suasana hening beberapa saat). Apa yang hendak Anda katakan? Kalau saya terlibat dalam kasus Munir? 


Tidak. Saya menanyakan, kalau Anda jadi Presiden, apa yang akan ada lakukan? Presiden Yudhoyono yang masih menjabat mengatakan kalau ini adalah “ujian bagi bangsa”, dan menurut janda Munir, tidak ada perkembangan soal kasus ini. Jadi saya bertanya, jika Anda jadi presiden, apakah Anda akan melihat kasus ini sebagai “ujian bagi bangsa”? Dan apa yang akan Anda lakukan untuk memastikan kalau kasus pembunuhan Munir akan dituntaskan? 

 

Ya... di sini ada pengadilan resmi. Ada pengadilan resmi. Juga ada institusi hukum. Kami akan meningkatkan kualitas institusi hukum. Di sini ada LSM. Biarlah proses berjalan. 


Anda juga mengatakan kalau menurut Anda tak penting bagi Indonesia untuk jadi negara yang berpengaruh di panggung dunia atau ASEAN sekalipun?


Bagaimana bisa pemimpin Indonesia punya pengaruh di dunia ketika masih ada kemiskinan yang parah di dalam negeri? Ketika di tempat yang berjarak satu jam dari ibukota, ada warga yang tak bisa menjangkau pelayanan mendasar seperti air, pendidikan dan kesehatan? Kita harus bergerak bersama. Kita harus mengurus rumah tangga sendiri. Saya yakin betul kalau kita mengurus orang kita sendiri, maka pengaruh di dunia luar akan datang dengan sendirinya. 


Lagipula tidak ada yang mendengarkan kita. Tidak ada yang akan mendengarkan kita jika kita tak bisa memberi makan orang Indonesia sendiri. 


Editor: Antonius Eko 




PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA