Berita Saga

Seribu Kapal Untuk Nelayan
Written By : Bambang Hari | 16 November 2012 | 08:49

KBR68H - 1000 kapal baru yang akan dihibahkan pemerintah kepada nelayan terancam jadi barang rongsokan. Nelayan menolak bantuan itu, karena tidak sesuai dengan kondisi peraiaran dan kebutuhan mereka. Padahal, program Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2010 ini bertujuan untuk meningkatkan pengasilan para nelayan. Repoter KBR68H Bambang Hari menyusun laporan soal buruknya perencanaan program pemerintah untuk kapal nelayan, yang memakan anggaran hingga milliaran rupiah.

Nelayan disejumlah daerah menolak hibah 1000 kapal ikan berkapasitas 30 GT dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kapal-kapal itu dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Diantaranya karena daya mesin yang terlalu kecil, sistem peralatan berlayar yang tidak lengkap, hingga biaya operasional yang tinggi. Nelayan asal Kendal Sugeng dan Triyanto dari Jakarta, adalah sebagian yang menolak bantuan itu.

Jaringnya kurang panjang, dan jok-nya ke bawah itu pun kurang dalam, daya mesinnya terlalu kecil, lampunya itu pun untuk penerangan masih kurang. Yang kedua, kami ini nggak mampu untuk sekali beroperasinya kapal itu, karena sekali beroperasi membutuhkan dana paling minim itu Rp 25 juta, bisa membengkak sampai Rp 40 juta itu kalau sekali berangkat untuk ke laut. (sementara kapal yang sekarang digunakan oleh nelayan di Kendal berapa biaya operasinya?) Yang digunakan sekarang itu sekitar Rp 500 (ribu) sampai Rp 1 juta sekali berangkat.

"Sampai di Jakarta kapal 30 GT itu tidak bisa dipakai. Pertama karena bikinnya itu nggak bener. Alat-alatnya itu tidak lengkap, karena alat-alatnya itu nggak bisa dipakai, kuta perlu beli jaring lagi, ini itu. KAn nelayan nggak mampu. Terus untuk masalah GT-nya. Perizinan itu kan DKP, terus jatah 25 KL itu kan nggak cukup. Makanya itu kapal jadi diiket, udah rusak, bocor. Udah diiket berapa bulan tuh. Itu baru satu kapal, kapal berikitnya akan kita tolak karena kita nggak butuh."

Kementerian Kelautan dan Perikanan seolah lepas tangan atas maslah ini. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Tjitjip Sutardjo berdalalih, bantuan 1000 kapal itu sebelumnya sudah dibahas oleh para perwakilan daerah. Sehingga bila ada kesalahan spesifikasi, bukan lagi tanggung jawab Pemerintah Pusat.

Usulan-usulan desainnya sebenarnya dari kelompok nelayan. Melalui pemda setempat atau kepala dinas, kemudian dari situlah Kemudian dikirimkanlah kepada kementerian, kemudian dikirimlah kepada kami. Kemudian tender, dan pembinaan nelayan langsung dilakukan oleh pemda-pemda setempat.

Sharif Tjitjip Sutardjo mengakui, masih terjadi kesalahan soal program tersebut. Dia mensinyalir, ada permintaan kebutuhan kapal nelayan di daerah yang tidak sesuai dengan spesifikasi di lapangan. Namun Kementerian Kelautan dan Perikanan mematok standar berkapasitas 30 GT.

Menurut Koordinator LSM Pemerhati Kelautan dan Perikanan, DFW Zulficar Mochtar, peristiwa itu merupakan blunder dari Pemerintah dalam merancang sebuah program. Menurutnya, ini sama saja pemborosan anggaran negara. Karena, anggaran pengadaan kapal untuk nelayan ini jumlahnya mencapai 1,5 miliar rupiah lebih. Hal itu sekaligus menunjukkan ketidakcakapan seorang menteri dalam melakukan perencanaan sebuah program.

Secara prinsip, sebenarnya program 1000 kapal itu bagus. Inisiatif Pemerintah untuk memperhatikan masyarakat. Akan tetapi karena prosesnya tidak strategis, tidak komprehensif, tidak berasal dari informasi yang akurat dan persiapan yang matang akhirnya rencana pengadaan kapal tersebut tidak sesuai dengan spek yang diharapkan, gitu. Kan setiap daerah di Indonesia itu berbeda. Kemudian ikan tangkapan mereka juga berbeda-beda juga, jenis alat tangkap yang mereka gunakan juga berbeda juga. Dan pemahaman atas kompleksitas ini itu harus dimiliki oleh seorang Menteri Kelautan.

Zulficar menambahkan, bila tidak ingin dianggap program yang menghambur-hamburkan anggaran, Pemerintah harus segera menemukan jalan keluar dari masalah ini. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pendataan ulang. Sehingga kapal yang diberikan dapat digunakan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh nelayan.

Share : Facebook | Twitter | Mail