cihui

Balada Pengamen Korban Salah Tangkap (2)

Balada Pengamen Korban Salah Tangkap (2)Dua pengamen yang diduga korban salah tangkap kasus pembunuhan sebelum menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Foto: Sasmito, KBR68H)
 
 

Kekerasan di Tahanan


Salah satu alasanya karena  polisi salah tangkap dan menyiksa mereka selama proses pemeriksaan. Selain itu tegas Marni saat kejadian pembunuhan berlangsung, kedua anaknya tengah berada di  Parung, Bogor bukan di Cipulir. Mereka ditangkap pada akhir Juni.

“Waktu kejadiannya itu,hari malam minggu Dia berangkat bersama teman-temannya ke Parung sampai jam 7 pagi di Parung. Semalaman itu tidak kemana-mana. Setelah itu baru naik kereta pertama kesini sampai disini jam setengah 9,” katanya.

Perempuan setengah baya ini menuding anggota Kepolisian Jakarta menganiaya dan memaksa kedua anak dan 4 temannya membunuh Dicky.“Pemeriksaannya itu, langsung hari itu. Ibu datang sudah di BAP dia. Karena hari itu ditanganai langsung di BAP. Si Hartono (salah satu pengamen korban  salah tangkap-red) nya mengetik, Polisi berbaris. Kalau si Andronya salah-salah jawab, tidak mengaku langsung ditendang dia. Makanya si Andro itu di BAP menuruti kemauan dia,” ceritanya.

Keterangan Marni, juga dikuatkan Isep Febri Standa, saksi kunci,  yang saat kejadian bersama Andro dan beberapa terdakwa lainnya.“Paginya saya dari Parung ke arah Cipulir, saya ke bawah ada 4 orang. 3 orang kecil dan dewasa 1 cewek di sana,” akunya.

Isep yang juga adik terdakwa Andro melanjutkan ceritanya “Pokoknya lagi main sama si Fatah, Terus saya lihat ada orang (korban Dicky –red)  jaraknya sekitar 7 meter. Saya bilang Tah itu siapa kenal. Ah busyet Sep bolong-bolong itu orang, Kita lihatlah rame-rame semuanya. Busyet, kemudian saya tanya alamat rumahnya,” katanya.

Isep dan Fatah yang bekerja sebagai pengamen saat itu melihat korban  Dicky sudah dalam kondisi luka parah akibat luka tusukan. 

Menurut Isep, sebelum meregang nyawa, ia dan teman-temannya sempat memberikan  air minum kepada korban.“Di situ si Andro menawarkan air, kemudian minum keluar dari tenggorokan.  Lalu kita duduk-duduk lagi. Terus tiba-tiba dia tidak bergerak. Kemudian kita samperin lagi eh sudah tewas. Jadi Andro dari Bogor bersama kita dan melihat bareng-bareng juga,” paparnya.

Melihat Dicky tewas, Isep lantas melaporkan kejadian itu ke satpam Pasar Cipulir.  Tak lama kemudian kasus ini ditangani Kepolisian Jakarta.  Tapi anehnya mereka malah ditangkap dan dijadikan tersangka. “Melapor kemana setelah itu? Si Ferdi yang melapor ke satpam. Pertama yang dibawa 3 orang Ucok, Daus dan Andro. Kemudian pas malamnya pada dikepung di angkringan Pakdhe Buah Cipulir kemudian dibawa ke Polda,”terang Isep.

Polisi kemudian menangkap 12 pengamen yang diduga terlibat pembunuhan dan pencurian sepeda motor milik Dicky.  Saat diperiksa polisi, Isep misalnya melihat sang kakak ikut disiksa.   “Saya melihat Andro digebukin 1 orang dipaksa ngaku. Kan saya di dalam ruangannya, dia di luar ruangan. Dia ditanya siapa yang jual motornya, saya tidak tahu. Andro terus menahan injakan agar tidak di kepala,” katanya.

Polisi kemudian menetapkan 6 tersangka. Enam lainnya dibebaskan. Tindakan kekerasan polisi Jakarta dibenarkan pengamen lain Rere Septiani. Dia melihat rekannya Nurdin dicokok aparat  saat di warung internet kawasan Parung.“Kita tidak tahu itu polisi, lagi tidur tiba-tiba dipukuli nanyain motor. Sedangkan Nurdin (salah satu pengamen korban salah tangkap –red) bisa bawa motor juga tidak, tiba-tiba dibawa ke Polda saja.”

Kekerasan aparat berlangsung hingga pemeriksaan berlangsung. “Iya satu ruangan, cuma pas Andro dan Nurdin diestrum, Rere disuruh keluar ruangan. Jadi Rere tidak melihat langsung, hanya mendengar jeritannya saja. Dan mendengar suara setrumannya. Mungkin karena tidak kuat, mereka mengakuinya saja. Kita membuat rekayasa semuanya,” ungkapnya.

Bagaimana tanggapan Kepolisian Jakarta? 



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA