cihui

Medan ‘Juara’ Kasus Gizi Buruk

Medan ‘Juara’ Kasus Gizi BurukIlustrasi
 
 

KBR68H, Medan- Dinas Kesehatan Sumatera Utara mencatat sepanjang tahun 2012 terdapat 746 kasus gizi buruk terjadi di beberapa wilayah Sumut. Dari jumlah itu, Kota Medan menduduki peringkat pertama dengan 143 kasus.

“Dari jumah itu, ada 372 kasus yang akan diberi dana pendampingan sebesar Rp400 ribu per anak untuk mendapatkan perawatan di Puskesmas atau di rumah sakit,” sebut Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sumut, Kustinah, Rabu (27/2)

Dijelaskan, pada 25 Januari setiap tahunnya diperingati hari gizi dan Januari 2013 merupakan hari Gizi yang ke- 53 melalui gerakan nasional sadar gizi 1000 hari untuk negeri dengan latar belakang agar anak-anak sehat, cerdas dan produktif.

"Warga yang sehat akan mampu bergaul, tidak sakit karena banyak persoalan anak-anak sejak lahir. Maka pada pasangan usia subur juga dilakukan penyuluhan bayi sehat pada ibu. Dukungan faktor gizi mendukung untuk penyelenggaraan negara, karena gizi membentengi dari penyakit,” ujarnya.

Disebutkan, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, secara nasional prevalensi anak balita kurang gizi sebesar 17,9 persen, balita pendek 35,6 persen. Di Sumut, katanya, untuk balita pendek 43,1 persen, begitu juga hasil Riskesdas 2010, sebanyak 42,3 persen balita pendek yang lebih tinggi dari nasional.

“Riskesdas 2007 di Sumut, kasus gizi buruk 8,7 persen dan tahun 2010 turun menjadi 4,2 persen. Persentase ini masih dibawah target nasiona tahun 2014 sebesar 5 persen,” terangnya.

Sementara tingkat partisipasi masyarakat yang datang ke Posyandu, sebut Kustinah, tahun 2012 hanya 68 persen, sedangkan target nasional 80 persen. “Kendalanya antara lain kurangnya sosialisasi dan yang datang karena adanya pemberian  makanan tambahan. "Masalah gizi berhubungan erat dengan pengetahuan, sikap dan perilaku,” imbuhnya.

Diterangkan, tahun 2012 ada program unggulan nkampanye keluarga sadar gizi yang salah satu topiknya penyelamatan 1000 hari pertama bayi mulai dari janin sampai usia 2 tahun. Mengenai penderita gizi buruk, Ferdinan mengatakan semuanya setelah dirawat, status gizinya meningkat dan tidak ada yang meninggal.

Namun, setelah tiga bulan berikutnya apakah kembali masuk rumah sakit, belum ada laporan. Maka, sambungnya, petingnya peran kabupaten/kota dalam mengatasi sebelum terjadinya gizi buruk, semua sektor terkait harus turun seperti Badan Ketahanan Pangan, Dinas Koperasi, Dinas Pekerjaan Umum dan lainnya. "Dinkes Sumut hanya dihilirnya," katanya.

Berikut kasus gizi buruk yang terjadi di wilayah Sumut sepanjang tahun 2012 yakni, Medan sebanyak 143 dan yang diberi dana pendampingan 30 balita, lalu Dairi 110 dan 23 yang diberi dana pendampingan. Kemudian Madina 62, yang diberi dana pendampingan 25, Asahan 45 dan 24 diberi dana pendampingan, Tapanuli Selatan 41 dan 25 yang diberi dana pendampingan.

Sumber: Star News Radio



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA