cihui

Imam Syaiful, Tukang Becak di Jombang Ikuti UN Paket B

Imam Syaiful, Tukang Becak di Jombang Ikuti UN Paket BImam Syaiful, belajar untuk persiapan mengikuti Unas paket B. (Foto: Radio Suara Warga Jombang)
 
 

KBR68H, Jombang- Wajahnya terlihat cukup tegang. Satu persatu soal Ujian Nasional (Unas) dia kerjakan. Sesekali tangannya mengusap kening pertanda sedang berpikir keras mengerjakan soal-soal ujian.

Begitulah Imam Syaiful (37), seorang tukang becak saat mengikuti Ujian Nasional pada jam pertama pelaksanaan ujian Paket B, Senin (22/4/2013). “Siapa bilang ujian paket B mudah, ternyata soal-soalnya sulit juga, sama seperti anak sekolah biasa,” ujar dia saat ditemui di kediamannya, Rabu (24/4/2013).

Di sela-sela aktifitas mencari nafkah, Imam Syaiful memanfaatkan waktu untuk belajar guna persiapan ujian. Kemarin adalah hari terakhir dirinya mengikuti UN Paket B. UN Paket B dilaksanakan pada siang hari pukul 13.00 WIB.

Imam Syaiful menjadi salah satu peserta ujian nasional paket B yang diselenggarakan pada tahun 2013 ini. Dia bersama dengan Syaiful Anwar, menjadi peserta ujian yang paling tua diantara peserta 7 peserta UN paket B lainnya yang diselenggarakan di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Yalatif  di Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pria ini dalam kesehariannya bekerja sebagai tukang becak dan profesi itu dijalaninya sejak masa lajang hingga dia berkeluarga dan memiliki anak. Selain menarik becak, Imam Syaiful juga bekerja sebagai tukang reparasi sepeda.

Bapak 2 anak yang tinggal di Dusun Jombang Krajan, komplek perumahan Griya Indah Jombang ini mengikuti ujian nasional untuk paket B karena tertantang untuk mendapatkan strata pendidikan lulusan setara SMP. Salah satu tujuannya, memacu anak agar mau menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

“Tujuannya ya agar bisa dapat ijazah yang setara SMP. Tentu ada tujuan lain, agar anak saya punya motivasi mau sekolah yang lebih tinggi. Kalau saya pendidikan SMP, masak anak saya hanya sampai SMP. Harusnya khan bisa sampai SMA bahkan kuliah,” tutur Syaiful.

Soal perjalanan pendidikan, Syaiful sebenarnya pernah mengenyam pendidikan tingkat SMP di Jawa Tengah. Kendala ekonomi membuat dia harus mengundurkan diri dari bangku SMP saat berada di kelas 2.

Keikutsertaan Imam Syaiful pada Unas paket B tahun ini, sebenarnya tidak berlangsung secara mendadak. Disela-sela aktifitasnya sebagai tukang becak dan tukang reparasi sepeda, dia bertemu dengan temannya yang menawari untuk mengikuti pendidikan luar sekolah.

Program pendidikan luar sekolah yang menurutnya menarik, membuat Imam Syaiful tertarik bergabung dengan PKBM Yalatif. “Disitu ada pendidikan komputer, keterampilan dan pengetahuan umum. Saya tertarik untuk meningkatkan pengetahuan akhirnya ikut sekolah dan ketika ditawari ikut ujian nasional Paket B ya sekalian saja ikut, itung-itung untuk memotivasi anak,”ungkap dia.

Imam Syaiful bukanlah orang yang mampu secara ekonomi. Dengan bekerja sebagai tukang becak dan tukang reparasi sepeda, pendapatan yang mampu ia raih, rata-rata Rp. 50 ribu – Rp. 60 ribu setiap hari. Namun, diantara tukang becak lainnya yang ada di Jombang, dia tergolong orang yang mau berfikir maju.

Selain rutinitas menarik becak dan menjadi tukang reparasi sepeda, dia juga aktif sebagai pengurus di organisasi Paguyuban Becak Jombang (Pabejo). Selain sebagai pengurus Pabejo, Imam Syaiful juga pengurus di Koperasi tukang becak. Di Koperasi itu, dia bertugas mengelola keuangan yang diperuntukkan bagi tukang becak dan keluarganya.

“Aktifitasnya ya dibagi-bagi, kapan waktunya narik becak, kapan servis sepeda dan ngurusi koperasi itu semua diatur supaya semuanya jalan. Ngurus koperasi becak itu diniati berjuang, lha kalau bukan orang becak memang siapa yang mau ngurus tukang becak,” jelas Syaiful.

Soal pendidikan, Syaiful berharap ada keberpihakan pemerintah pada kelompok miskin. Akses pendidikan menurut dia, seharusnya bisa dirasakan seluruh warga negara.

Pengelola PKBM Yalatif, Zainuddin mengatakan, peserta ujian nasional Paket B di lembaganya sebenarnya berjumlah 11 orang. Namun, saat ujian dimulai, hanya 7 orang yang ikut. “Empat orang yang tidak ikut, satu orang malah lari saat didatangi ke rumahnya, katanya takut ujian,” ujar dia.

Sumber: Suara Warga Jombang



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA