cihui

Konflik Antarumat Beragama Kerap Halangi Agenda Kemanusiaan

Konflik Antarumat Beragama Kerap Halangi Agenda Kemanusiaan Pengungsi Syiah di Sampang. (Antara Foto)
 
 

KBR68H, Yogyakarta - Pemberantasan kemiskinan, pengurangan kebodohan, pencegahan korupsi, dan pembentukan pemerintahan yang bersih merupakan agenda-agenda kemanusiaan yang dapat dilakukan dengan kerja sama antarumat beragama. Namun hal tersebut menjadi tertunda manakala munculnya konflik antarumat beragama di negeri ini.

Ini ditegaskan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Edy Suandi Hamid pada Seminar Internasional Ke-2, Dialog Antarpenganut Agama dan Peradaban, Inisiatif Pelayan Dua Tanah Suci Raja Abdullah Bin Abdul Aziz, kerjasama UII dan Universitas Islam  Madinah (UIM), di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Selasa (4/6).

Menurut Edy, kondisi ini sudah selayaknya disikapi serius oleh semua pihak, termasuk para tokoh masyarakat, organisasi massa, dan perguruan tinggi. Ia menjelaskan, konflik antaragama bisa terjadi akibat adanya penonjolan keyakinan atas agamanya sebagai agama yang paling baik dan benar, sikap superior yang satu atas lainnya, atau egoisme keagamaan yang membuatnya jauh dari sikap toleransi.

Namun demikian, lanjut Edy, sifat seperti egoisme keagamaan tidak harus ditunjukkan dengan sikap merendahkan atau menyalahkan keyakinan orang lain. Lebih-lebih dalam perbedaan yang ada terdapat banyak kesamaan, dan juga menuju pada suatu cita-cita hidup keabadian yang sama.  Pemahaman untuk saling menghormati dan menghargai inilah yang perlu dimunculkan.

“Dengan sikap saling menghargai dan menghormati, maka hidup berdampingan antar umat yang berbeda keyakinannya,  bukan menjadi suatu masalah, dan tidak sulit diwujudkan,” paparnya.

Dialog Antarpenganut Agama dan Peradaban ini dihadiri oleh peserta dengan berbagai latar belakang keyakinan, dan juga dihadiri oleh tamu undangan dari dalam dan juga luar negeri. Misalnya, para Duta Besar Negara Sahabat untuk Indonesia, Sekjen King Abdullah International Center for Dialogue Among Followers of Religions and Cultures, Faishal bin Abdurrahman bin Mu’ammar, President Islamic University in Madinah, Muhammad bin Ali Al-’Uqla beserta jajarannya, para Pimpinan Perguruan Tinggi, Pimpinan Organisasi dan lembaga Keagamaan.

Sumber: Radio Unisi
Editor: Anto Sidharta



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA