cihui

Jejak Sejarah yang Terbengkalai di Bumi Tarakan

Jejak Sejarah yang Terbengkalai di Bumi Tarakan Pompa sumur angguk yang sudah tidak berfungsi
 
 

Pompa Sumur AnggukSelama ini kota Tarakan, Kalimantan Utara lebih dikenal sebagai salah satu kota jasa dan perdagangan. Padahal  kota yang memiliki luas wilayah 250,80 km² ini juga menyimpan jejak-jejak sejarah yang berserakan. Meski demikian, pemerintah setempat masih belum melirik potensi pariwisata untuk dijadikan ikon demi mendongkrak pendapatan daerah. 

Menjejakkan kaki di Tarakan, jangan heran jika Anda akan menemukan sumur-sumur pompa tua di sepanjang perjalanan. Karena Tarakan dulunya memang terkenal sebagai Pulau Minyak.   Inilah yang kemudian membuat Jepang pada masa Perang Dunia II mendarat ke Tarakan untuk menguasai pulau kaya ini. Disebut-sebut kualitas minyak di Tarakan bagus dan mampu menghasilkan 6 juta barel minyak setiap tahun. Selain itu posisi Tarakan cukup strategis  dengan Jepang sehingga memudahkan  mengangkut minyak bumi.

Tarakan adalah daratan pertama Nusantara yang diserbu  tentara Jepang pada dini hari, 11 Januari 1942. Sekitar 15.000 tentara Jepang  berhasil menundukkan 2.000  tentara Belanda yang lebih dahulu menguasai di sana. Sebagai gambaran bagaimana sengitnya pertempuran berdarah kala itu, sebelum pasukan Jepang mendarat, terlebih dahulu tentara Belanda membakar ladang-ladang minyak di Tarakan agar lawannya tidak mendapatkan pasokan bahan bakar. Sebagian tentara Belanda dan lainnya menjadi tawanan.  Tarakan berhasil direbut dalam waktu tiga hari.

Namun pada 1 Mei 1945, Tarakan kembali digempur dan dibumihanguskan oleh serdadu sekutu yang terdiri dari pasukan Amerika Serikat dan Australia yang berjumlah 2000 personil.Setelah pertempuran berdarah hingga dua bulan barulah Tarakan dapat direbut dari tangan Jepang. Sampai berakhirnya perang di Tarakan, lebih dari 2.000 tentara dari berbagai kebangsaan, tewas di sana. Dari pihak Australia, sekitar 230 tentaranya tewas dan dimakamkan di Tarakan.  Sementara dari kubu Jepang, tercatat lebih dari 1.500 prajurit  tewas.

Inilah yang membuat Tarakan juga dikenal sebagai "Pearl Harbour"-nya Indonesia. Tetapi banyak yang tak tahu sejarah ini.  Sisa-sisa peninggalan sejarah itu masih bertahan hingga saat ini dengan kondisi yang memprihatinkan karena tak terawat. Cukup sediakan waktu sehari saja, untuk berkeliling menikmati peninggalan sejarah di Tarakan. Maklum kota ini tak luas, sehingga untuk mencapai satu lokasi ke lokasi lainnya tak membutuhkan waktu lama, dan yang jelas tak ada kemacetan.

Tugu AustraliaTugu Australia

Tugu Australia merupakan salah satu bukti sejarah pergolakan politik perang dunia II di Tarakan.  Berlokasi di jalan pulau Kalimantan Kp.Satu, lokasi Tugu ini tak jauh dari  Kantor Walikota Tarakan. Lagi-lagi untuk menuju lokasi Tugu ini Anda harus sering-sering bertanya biar tak sesat di jalan. Pasalnya tugu ini berada di dalam kompleks Kodim Tarakan. Setelah meminta ijin petugas yang jaga, saya melihat secara langsung tugu yang dibangun untuk  mengenang para  tentara Australia yang tewas dalam peperangan pembebasan Tarakan dari pendudukan Jepang.

MeriamBunker dan Meriam

Tak lengkap jika menyusuri sejarah "Pearl Harbour"-nya Indonesia tanpa menyaksikan bukti persenjataan yang dipakai para tentara ketika berperang.  Meriam yang berasal dari peninggalan Perang Dunia II itu dapat ditemukan di Juwata dan Peningki Lama Karungan. Meriam-meriam itu masih kokoh dapat dipasang di puncak-puncak bukit menghadap ke laut lepas. Namun sayangnya karena tak terawat meriam-meriam itu sudah berkarat bahkan ada yang patah dan dibiarkan begitu saja. Dari arah meriam-meriam itu bisa dibayangkan bagaimana dulu dengan mudah lawan yang datang dari lautan bisa langsung digempur.

Selain meriam, terdapat 10 bunker di Kota Tarakan yang terletak di Juawata Laut dan Peningki Lama. Pembuatan bunker tersebut pada kurun 1936-1939. Bentuk dan gaya bangunan yang dikhususkan untuk sarana pertahanan perang.

Perang dunia ke-II juga meninggalkan  jejak sejarah stelling  atau tempat pengintaian dan perlindungan. Bangunan ini mirim bunker, dimana ruangan yang berada di bawah permukaan tanah sebagai tempat persembunyian, namun tidak berupa lorong atau rongga. Sebagian besar bangunan tertanam dalam tanah dan yang tampak di permukaan hanya bagian atas sekaligus penutup. Lokasinya tepat di sebelah timur Hangar Mission Avation Fellowship ( MAF) di Kawasan Bandara Udara Juwata.

Tugu Perabuan JepangTugu Perabuan Jepang

Tugu ini terletak di  jalan Markoni Gg.III, yang hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Tarakan.  Tak ada petunjuk untuk menuju ke lokasi Tugu yang letaknya tersembunyi ini. Melewati gang kecil, dan harus aktif bertanya jika ingin menemukan peninggalan sejarah ini.  Bahkan beberapa warga yang saya temui hanya menggelengkan kepala ketika ditanya loksi Tugu. Dan ketika akhirnya saya menemukannya, gerbang masuk dalam kondisi digembok. Setelah bertanya di warung depan Tugu, saya disarankan untuk mencari sang juru kunci terlebih dahulu. Setelah bertemu Burhanuddin yang sejak 1975 merawat Tugu, akhirnya saya diajak berkeliling ke Tugu Perabuan.

"Seringkali banyak warga Jepang kesini, sekali datang ada 20 orang. Baru-baru ini ada kapal Jepang yang berlabuh dan 22 orang Jepang kesini,"ungkap Burhanuddin.

Berbentuk segi empat pipih  tugi ini dilengkapi dengan tulisan Kanji. Tugu dengan tinggi 2 m dan lebar 50 cm ini biasanya digunakan dalam upacara perabuan orang-orang Jepang. Tugu ini dibangun pada 1933 yang membuktikan sebelum pendudukan Jepang, sudah ada orang-orang Jepang di Tarakan yang berdagang.

Banyaknya pejuang Jepang yang tewas ketika berperang di Tarakan membuat di tempat ini banyak dikunjungi warga Jepang. Setiap tahunnya, dipastikan selalu saja ada orang Jepang yang datang untuk berziarah dan melakukan upacara perabuan.

Wash TankWash Tank

Selain meriam, serdadu Belanda juga menghancurkan sumur dan pompa pengeboran minyak yang dibangun oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan perminyakan Belanda di Tarakan. Bekas penghancuran itu pun masih bisa dilihat, antara lain 22 menara pompa minyak yang tersebar di Kampung Empat dan Kampung Enam, Tarakan Timur. Tidak jauh dari tempat itu juga ada tangki hitam besar yang kini berisi air untuk membersihkan minyak (wash tank).

Museum Rumah Bundar

Objek wisata sejarah lainnya adalah rumah atap lengkung yang dinamai Roemah Boendar terdapat di kawasan perumahan Kampong Baru, tepatnya di Jl Danau Jempang. Tangsi ini dibangun pada 1945 oleh tentara sekutu Australia setelah merebut Tarakan dari kekuasaan Jepang. Bangunan ini dijadikan tempat tinggal tentara Australia sambil menunggu penarikan ke negaranya.

Selain peninggalan sejarah, Kota Tarakan juga menawarkan objek wisata alam, seperti Pantai Wisata Amal, Hutan Mangrove dan Bekantan serta wisata budaya. Begitu banyak potensi wisata yang terpendam ini dan bisa digali. Majunya pariwisata tentu akan menggeliatkan perekonomian Tarakan.  (Suryawijayanti)  



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA