cihui

KPU NTB Diminta Sajikan Data Pemilih yang Benar

KPU NTB Diminta Sajikan Data Pemilih yang Benar Pasangan Cagub-Cawagub, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi (kiri) dan Muhamad Amin (kanan) (foto: Antara)
 
 

Komisi DPRD Nusa Tenggara Barat  meminta KPU agar menyajikan data pemilih baik pada pemilukada maupun pemilu legislatif dengan valid. Jangan sampai ada pihak yang menggugat hasil pemilu lantaran jumlah pemilih yang bermasalah.
 
Anggota komisi I DPRD NTB H Mizihir mengatakan, lonjakan jumlah penduduk di beberapa daerah dinilai berlebihan. Misalnya kabupaten Lombok Tengah (Loteng), pada pemilu 2009 lalu, jumlah penduduk sebanyak 856 ribu orang. Namun data tahun 2012 menunjukkan angka 1,1 juta jiwa.
 
Ia mengatakan, pembagian Daerah Pemilihan (Dapil) di Loteng menjadi dua Dapil dinilai belum tepat karena data jumlah penduduk perlu dipertanyakan. Jumlah kursi di DPRD NTB dari Dapil Loteng bertambah dari 10 kursi pada tahun 2009 menjadi 14 kursi pada pemilu 2013. Penambahan kursi itu berdasarkan jumlah penduduk dalam satau daerah.
 
“Secara teori, Loteng itu sampai hari ini masih dipertanyakan lonjakan penduduknya sekian puluh persen. Dari 800 ribuan menjadi 1,1 juta tahun 2012. Itu terlalu  jauh jarakknya.” Kata Muzihir.
 
Sementara terkait dengan data jumlah pemilih pada pemilukada 2013 ini, ia mengharapkan agar sebelum penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT), masalah data harus valid. Daftar pemilih yang masih ganda, pemilih dibawah umur atau pemilih dari anggota TNI Polri agar segera dihapus.
 
Mengenai jumlah penambahan Dapil pada pemilu 2014 mendatang, KPU membagi provinsi NTB menjadi 8 Dapil. Ada dua Dapil yang dipecah yaitu Dapil Loteng dan Dapil Lotim. Jumlah penduduk NTB pada tahun 2012 sebanyak 5,2 juta jiwa.
 
Sekedar informasi, data penduduk di Kabupaten Loteng tahun 2009 sebanyak 856.675 jiwa. Sementara dari data KPU NTB tahun 2012 jumlah penduduk di kabupaten ini meningkat menjadi 1.154.613 jiwa.

Sumber: radio Global Lombok



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA