Nusantara Nusa Tenggara

Lombok Tengah Bangun Konservasi Perairan
Written By : radio Global | 12 June 2013 | 15:16

KBR68H, Mataram - Pemerintah kabupaten Lombok Tengah (Loteng) membangun sebuah kawasan konservasi perairan di Teluk Bumbang, Desa Mertak, Pujut  Loteng . Luas kawasan konservasi itu mencapai 22 ribu hektar lebih. Pemkab Loteng mengajak masyarakat pesisir untuk memelihara biota laut berupa larva atau bayi lobster dengan cara tidak menangkap ikan di kawasan zona inti.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Loteng Maulana Razak mengatakan, kawasan Teluk Bumbang dibagi menjadi empat zonasi yaitu zona inti, rehabilitasi, pemanfaatan serta zona perikanan berkelanjutan.

Konsekuensi dari zonasi laut itu adalah adanya pembatasan areal tangkap bagi nelayan. Namun kawasan yang dilarang untuk menangkap ikan itu hanya 2 persen dari luas areal konservasi atau 930 hektar.

”Ada biota di sana yang cukup berharga buat kita semua yaitu larva lobster. Jadi larva lobster itu kita sudah amati cukup lama tumbuh subur di teluk Bumbang dan sekitarnya. Berdasarkan itu kami berpikir sangat layak kawasan ini kita jadikan kawasan konservasi. Sehingga kita tetap menyediakan lobster ini untuk kepentingan-kepentingan generasi berikutnya” kata Maulana.

Maulana menambahkan, Pemkab Loteng telah bekerjasama dengan organisasi pelestarian alam internasional, Rare untuk mendukung kawasan konservasi tersebut. Pemkab Loteng bersama mitra berusaha memberi penyadaran kepada masyarakat nelayan akan pentingnya cadangan ikan bagi masa depan. Karena itu, zona yang dilarang untuk menangkap ikan hendaknya bisa ditaati oleh para nelayan.

Untuk membina masyarakat pesisir karena areal tangkap ikan dibatasi, Pemkab Loteng mengucurkan program pembinaan masyarakat nelayan agar ekonomi mereka tidak terganggu.

Wilayah korservasi perairan teluk Bumbang dan sekitarnya masuk dalam masterplan pengembangan Minapolitan atau pusat perikanan. Pemda setempat memberi bantuan kepada warga pesisir untuk budi daya rumput laut.

Sumber: radio Global FM Lombok  

Editor: Antonius Eko

Share : Facebook | Twitter | Mail