cihui

Menanti Kemarahan Indonesia Atas Kasus Perkosaan

Menanti Kemarahan Indonesia Atas Kasus PerkosaanIlustrasi: sxc.hu
 
 

India kembali marah begitu terjadi kasus pemerkosaan dan penyiksaan terhadap seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Anak perempuan ini diculik, diserang selama 48 jam dalam sebuah ruangan tertutup, lantas diperkosa. Polisi sudah menangkap dua tersangka pelaku, tapi itu tak menyurutkan kemarahan India.

Ini adalah kali kesekian warga India mengamuk lantaran terjadi kasus pemerkosaan. Kasus yang pertama kali memicu adalah pemerkosaan terhadap seorang mahasiswa akhir Desember lalu di atas sebuah bis yang melaju. Si perempuan lantas dilempar begitu saja di tepi jalan dan akhirnya meninggal. Kasus hukumnya langsung digelar, disertai aneka desakan dari warga untuk mereformasi kepolisian, mengubah aturan hukum dan lainnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Di bulan ini saja, ada L, usia 17 tahun, yang diperkosa hingga hamil 4 bulan oleh ayahnya sendiri. Juga ada siswi SMP  berusia 14 tahun yang diperkosa bergilir oleh 10 laki-laki di sebuah kontrakan. Kedua kasus ini dilaporkan ke polisi dan muncul di pemberitaan media. Bukan tidak mungkin, ada banyak kasus pemerkosaan lainnya yang luput dari liputan media atau bahkan tidak dilaporkan ke polisi.

Menurut data pemerintah India, setiap 20 menit ada satu perempuan India yang diperkosa. Dan sejak kasus pemerkosaan yang terjadi akhir tahun lalu di India, warga pun meneriakkan kemarahan mereka. Seharusnya kita pun bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita tidak pernah semarah itu? Di Indonesia jelas terjadi banyak kasus pemerkosaan, dengan korban dari beragam umur. Kita marah, iya. Tapi mengapa tidak sampai semarah India?

Bulan April identik dengan Hari Kartini, seorang pahlawan nasional yang lekat dengan perjuangan emansipasi untuk perempuan. Seharusnya, di bulan ini juga, kita merasa lebih marah jika terjadi kasus pemerkosaan yang sangat merendahkan derajat perempuan. Tapi toh itu tidak terjadi. Hari Kartini justru diterjemahkan di berbagai sekolah sebagai parade berbaju daerah – yang sebetulnya lebih pas untuk Hari Sumpah Pemuda. Atau dirayakan dengan lomba memasak, berbaju kebaya, yang dianggap merepresentasikan perempuan. Atau yang paling minim adalah sekadar berteriak di media sosial – sesuatu yang sifatnya sungguh artifisial.

Komnas Anak mencatat kasus perkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak, terutama perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari hampir tiga ribu laporan yang diterima tahun lalu, 62 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Komnas Anak sampai menyebut tahun 2013 ini sebagai tahun darurat kekerasan seksual terhadap anak. Tapi ini pun tak cukup untuk membuat kita gelisah dan berteriak marah.

Apa kita harus menunggu ada satu perempuan Indonesia diperkosa tiap 20 menit, baru kita mau melakukan sesuatu? Tentu tidak, dan jangan. Kita mungkin perlu lebih menebalkan empati kita terhadap perempuan korban perkosaan. Utamanya dengan tidak menempatkan mereka sebagai pemicu perkosaan itu sendiri. Dengan menebalkan empati, semoga saja kemarahan kita terus memuncak dan mendesak aparat terkait untuk lebih becus bekerja. Juga memastikan masyarakat tak melemahkan perempuan, dengan cara apa pun.



PortalKBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

DARI INDONESIA